GUBRAK!! aku terjatuh dari sepedah motorku. Kepalaku seakan pecah karena membentur trotoar, untungnya aku memakai helm. "au, Sakiiit!!". Terdengar suara di depanku, aku langsung melihatnya dan akupun terdiam membisu, sakit kepala yang ku rasa hilang entah kemana, sayap di punggungku langsung tumbuh seketika membuatku melayang-melayang di awan sambil menari-nari. "hei" "heiii!" seketika aku langsung sadar, "eh,eh iya" kataku. "Bisa bantu aku??, kenapa kamu melihatku seperti itu?". Aku tetap belum bisa berbicara, matanya indah bagai mentari di sore hari, suaranya halus bagai suling yang ditiup oleh seniman terbaik, membuat seakan degupan jantungku melebihi batas normal dan aku takut jantungku tidak mampu menahannya. "hei, tolong akuu!!" seru wanita itu. Aku langsung bangkit memegang tangannya dan melingkarkannya di bahuku, aku membopong dia kepinggir jalan di atas rumput hijau.
"KREKK" deritan suara step motor suprafit ku menggesek aspal hitam yang panas siang itu. aku kemudian menuntun si jaguar ke pinggir jalan di depan wanita manis itu. Jaguar adalah panggilan kesayanku pada untuk motor jadulku itu. Setelah itu aku juga menuntun sepeda berwarna pink yang berada disebelah motorku tadi, kemudian kembali menuntunnya kepinggir jalan. Aku baru sadar bahwa aku ditabrak oleh sang wanita cantik itu. Tak seperti biasanya ketika motor yang menabrak sepeda, tapi kali ini ada sepeda yang langsung menabrakku dari samping hingga aku jatuh ke jalan. untung waktu itu tidak ada mobil yang melewat pikirku. Jika ada, ya mungkin aku tak akan selamat.
Aku kemudian melihat wajah manis itu, kemudian perasaan aneh menghinggapiku ketika aku melihat wajahnya yang sangat manis itu. Matanya seakan-akan membocorkan ketahanan hatiku. Tapi aku harus sadar, bahwa wanita manis itu yang membuat aku dan si jaguar terluka. Tapi aku tak tega marah kepadanya, marah kepada dia yang sedang meniup-niup betisnya yang berdarah. Aku langsung menghampirinya dan melihat lukanya. "sakit?" aku bertanya. "sekali" dia menjawab. kemudian aku mengambil kotak P3K yang selalu kubawa kemanapun aku pergi yang kusimpan dibawah jok si jaguar. Aku mengambil betadin, Alkohol 70%, perban dan kapas. Ku usapkan kapas yang telah dicelupkan terlebih dahulu ke alkohol dan ku usapkan lembut pada luka dibetisnya itu. Tak ada satu katapun yang saling kami ucapkan. Aku kemudian mengusapkan betadin pada lukanya. "Makasih ya?" dia berbicara, sekaligus mengawali perbincangan kami. "Iya sama-sama". Dan kamipun berbicara panjang lebar mengenai kejadian barusan. Kemudian ayahnya pun datang dan menjemputnya pulang. Akupun beranjak pulang dengan membawa wajah manisnya terus dipikiranku.
Aku tahu bahwa namanya Yanti, dia anak seorang guru di desa sebelah desaku. Ketika itu dia sedang terburu-buru untuk pulang kerumah karena ibunya sedang sakit. Dan dia tidak dapat mengerem sepedahnya dipertigaan itu. Tapi tak masalah bagiku, karena dari sana aku bisa mengenal gadis cantik jelita seperti dia.
Sebulan lamanya dari kejadian itu. Hatiku selalu bertanya akan gadis itu, tapi aku tak pernah melihatnya. sepertinya Tuhan belum mengijinkan aku bertemu dengannya. Dan aku tahu bahwa dibalik semua ini akan ada kejutan dari Tuhan. "draa?" ibuku memanggil. "iya mah" seruku. "enggal gugah" ibu biasa menggunakan bahasa sunda untuk membangunkanku. "iya mah, ini enda bangun" enda adalah nama panggilanku pada diriku sendiri. Aneh memang, hanya diriku yang mungkin membuat nama panggilan untukku sendiri. Akupun beranjak kekamar mandi untuk mandi dan kemudian shalat.
"OH IYA!!" aku baru sadar hari ini aku ada penyuluhan di kantor kecamatan di dekat sekolahku. memang aku adalah ketua di tim remaja penyuluh di kotaku. Akupun berangkat ke kantor pemkot untuk prepare persiapan setelah aku meng sms teman-temanku. "hai jaguar, ayo kita berangkat" ucapku pada jaguar motorku. enam puluh, kilometer jaguar mengingatkanku untuk tidak terlalu cepat menjalankannya. "DRAA!!" ada seorang memanggilku. Aku pun menengok, "aah van" kupinggirkan jaguar. Hirvan mendekatiku dan langsung menaiki jaguar di belakangku. "ko bisa ada disana van?" tanyaku aneh karena tak biasanya dia disana. "habis dali nenekku" ucapnya. aku tak aneh karena hirvan memang tidak bisa mengatakan "R". "ndra kita penyuluhan dimana emang?" tanyanya. "di kantor kecamatan Cimahi selatan, kamu emang gag tau?" ucapku. "Gag, aku gag tau. Yang aku tau kata Bu Wulandini ada anggota balu dari SMAN 3" ucapnya. "hah?? kok aku gag tau ya?" ucapku. padahal aku ketua yang seharusnya tahu. "Gag tau, mungkin bu wulandini bosen sama kamu dra. Jadi dia mendekatiku. hehe" ucap hirvan sambil ketawa ngekeh."Sialan lu van, udah lah turun!! kita udah nyampe" suruhku. "sabal-sabal jangan malah gitu. hehehe". "parah lu van, ucapku". Akupun bertanya-tanya kenapa bu wulandini yang sangat dekat denganku tak memberitahuku tentang anggota baru itu. "ayo ndra, lama banget kamu" hirvan memanggilku. "oke-oke, sabar" ucapku. Akupan masuk ke lantai empat di gedung pemkot Kota Cimahi itu.
Akupun berjalan menuju ruangan prepare mengikuti hirvan. KREEK pintu ruangan kubuka, sedangkan hirvan sudah mendahuluiku masuk. "hai kak!!" serempak ucap novi dan afni menyapaku. "hai juga nov, afni!" kataku. "duduk ndra" seru bu wulandini. "oke bu. laksanakan" ucapku sambil tertawa. Aku duduk sebelum melihat siapa aja orang diruangan. "hai ndra" terdengar suara yang terasa ku kenal tapi telah lama aku gag mendengarnya. Aku pun menoleh kesebelah kananku. Dan mentari seakan bersinar kembali. Pemanas darahku seakan aktif kembali. pelangi dihatiku seakan kembali menampakan warna warninya padaku. Sayapkupun ikut tumbuh dan aku kembali menari dilangit yang begitu indah. "kak? kak? kakaaaaakk!!!". "hmm,hmm apa?" imaginasi ku hancur ketika anak-anak memanggilku. " serius amat lihat yantinya" seru novi. "Iya kaya lihat hantu aja" kata hirvan. Bukan hantu, tapi bidadari, ucapku dihati. "yanti kok disini?" ucapku. "iya kak, aku baru" sambil tersenyum dia bicara padaku. aaarghh hati aku berdetak terlalu cepat, aku mau pingsan, gara-gara senyumnya. Tak boleh, aku harus kuat, begitu banyak orang disini. malu ndra malu, ucapku di dalam hati. "Oke kita mulai" ucapku. Rapat prepare penyuluhanpun dimulai dengan semua rencana yang ada. Tapi aku selalu gemetar ketika melihat dia menatap tajam mataku. Dan akupun merasa dia tersipu malu ketika aku balik melihat matanya. Mungkin aku jatuh cinta padanya. Karena aku mesa separuh hatiku yang hilang satu bulan lamanya telah kembali hadir dihatiku.
aku menginginkanmu
aku sealu merasa bunga itu menjadi layu
saat kau berada jauh dariku
meski bunga itu begitu fresh dan indah terjamu
tapi aku merasa layu
ketika jauh darimu
Penyuluhanpun selesai. Sore ini, satu persatu anak-anak meninggalkanku. Hirvan pulang bareng dengan Novi karena rumah mereka berdekatan. Disusul afni yang dijemput oleh angga pacarnya. Angga sangat peduli dengan kekasihnya itu. Sedangkan ibu wulandini sudah pergi meninggalkan kita dari tadi tadi siang karena ada perlu. Sore itu didepan kantor kecamatan, dibawah langit orange sore hari, tinggal aku, yanti dan jaguar bertiga. ya meskipun nyatanya hanya berdua karena jaguar adalah sebuah motor. Akupun menatapnya, dan dia kelihatan cemas. "Gag ada yang jemput yanti?" aku bertanya. "Gag kak, lagian siapa yang mau jemput aku" ucapnya. "kakak mungkin? atau pacar? atau ayah?" tanyaku. "Ayah kerja, kakak aku gag punya. Pacar apalagi" jawabnya. "Terus pulang sama siapa? emang rumah yanti dimana?' tanyaku lagi, "Di daerah bumi asri kak. Aku mau naik angkot, cuma bingung. biasanya jam segini udah gag ada angkot kesana." jawabnya dengan wajah cemas. Aku tau kalau daerah itu emang sangat jauh dan gag ada angkot jika sore hari. "yaudah kakak anterin ya?" aku menawarkan. "bener kak? asik. makasih banyak ya kak?" ucapnya. kulihat wajahnya berubah dari cemas menjadi lega. Dan aku sangat senang melihat dia, orang yang aku suka tersenyum puas. "oke,oke ayo berangkat". Diapun naik dan kita langsung berangkat kerumahnya.
KRIIING, KRIIING. "Halo" sambil menutup mata ku mengangkat telepon itu. "pandaaa, banguun, udah jam tiga. jangan lupa shalat tahajud sama shaumnya!" ucap seorang gadis yang menjadi pengisi hidupuku setelah empat tahun lamanya. "iya bunda" ucapku memanggil yanti yang sekarang menjadi pacarku. Memang aku dan yanti sudah menjadi sepasang kekasih sejak aku menembaknya dengan sebuah boneka, sebuah puisi dan sebuah video yang aku buat untuk dia. Dialah yang mengisi hariku setiap hari, membangunkanku, menginngatkanku makan. sampai aku kerja nan jauh dari kota asalku. Ya, sekarang aku tinggal di Cilegon dan mengontrak sebuah rumah kecil disini. Sedangkan yanti kuliah di bandung. Aku selalu rindu padanya. Setiap Hari, jam, menit dan detik dalam hidupku. Dialah yang membuat hatiku menari. Menari karena sebuah perasaan aneh yang orang-orang menyebutnya cinta. Aku pun beranjak dari tempat tidur, sambil beranjak ke kamar mandi, ku menoleh sebuah foto yang kutempel di dinding kamarku. foto itu adalah foto yanti, dia yang selalu ada ketika aku sakit. Dialah yang rela mengorbankan semuanya untukku. Teringat di pikiranku pertama kali ku bertemu dengannya saat terjatuh. Aku sangat bersyukur. Aku berterimakasih karena kau telah memberikan aku sebuah hati, hati yang menari.
indra lesmana
cerita ini berdasarkan pengalaman seseorang, sedikit berbeda karena disesuaikan dengan cerita dan alurnya.
mohon maaf jika terdapat persamaan nama dan banyak kesalahan pada penulisan cerita diatas.
indra lesmana

No comments:
Post a Comment