Pada tanggal 01 Mei 2013, saya menulis sebuah cerita tentang tragedi longsor di daerah cililin bandung barat. Longsor tersebut merupakan salah satu longsor yang memakan korban jiwa yang cukup banyak. Kebetulan rumah saya dengan posisi longsor cukup dekat, sekitar 20 KM sehingga saya dapat langsung melihat kondisi lokasi longsor pada saat itu. Longsor tersebut terjadi pada tanggal 25 Maret 2013, dan menjadi perbincangan hangat pada media kala itu. Seperti dilansir media online disini dan disini.
Kembali ke topik awal, saya ketika mengunjungi lokasi longsor mendapatkan cerita dari salah seorang korban yang kehilangan banyak keluarganya. Dan kemudian saya mengobrol banyak dengan dia, setelah itu saya waktu itu memutuskan untuk membuat sebuah cerita dari apa yang dia rasakan. Cerita yang saya tulis terdapat banyak bahasa sunda, karena saya pikir akan hilang kesan touch nya jika saya menerjemahkannya kedalam bahasa indonesia.
oke, mari kita baca ceritanya. Selamat membaca :)
Sekejap saja

“Assalamualaikum warahmatullahiwabarakatu ka sakumna sadaya warga nagrog, di haturkeun kasumpingan nana dimasjid kanggo Shalawatan. Anu bade di kawitan saba’da shalat shubuh.” Suara speaker mushala di dusun itu sudah memecahkan keheningan subuh hari dusun itu.
“Hoaaaam”, geliat jamal meregangkan badannya ketika tidur. “Baru jam tiga juga,aaah “ sambil menarik selimbut kembali jamal bergumam. Jamal tak menghiraukan pengumuman itu, selimut seakan membiusnya untuk terus menutup matanya dan kembali tidur.
“Maaal, jamaaal hayu urang shalawatanheula. Tos adzan tuh!. Enggal jamal!.” Pinta ibu jamal dibalik pintu diruang tengah.
“Muhun bu ayeuna bade!” jawab jamal sambil menanggalkan selimutnya dan bergegas membuka pintu untuk ke kamar mandi.
Jamal adalah seorang pemuda yang tinggal bersama dua adiknya dan orangtuanya serta paman dan bibinya di kampung Nagrog desa mukapayung Kecamatan Cililin. Oleh sebab itu di kampung yang berada diatas pegunungan ini, semua warganya memakai bahasa Sunda yang halus.
“aa hayu ka mesijd” seru si kecil Nita.
“nya hayu” jawab santai jamal dengan pikiran aneh karena tumben si kecil Nita telah terjaga di subuh ini. Tapi dia tak menghiraukannya, jamal pun berangkat bersama kedua orang tuanya, kedua adiknya dan beserta paman dan bibinya.
Di perjalanan keanehan kembali merasuki hati jamal. Kenapa Ibu, Ayah, Nita, dan Randi serta paman dan bibinya terasa baik sekali pagi ini. Senyum mereka terasa manis dan tulus, dan terasa ada yang berbeda pagi ini. Yang membuat jamal seakan betah berada di samping mereka.
“Mah aya naon nya, tumben aya shalawatan?”. Tanya jamal kepada ibunya. Dengan perasaan aneh dan sesuatu yang membuat jamal tidak enak merasakan perasaan nya. Tapi merasa betah ketika berada disamping keluarganya.
“Nya syukuran we meurun mal. Kan urang teh salaku umat muslim kedah ari shalawatan sareng syukuran mah. Ngarah berkah, engke oge lamun mamah sareng bapak teu aya, jamal kudu jadi jalmi anu teras ibadah, iman sareng syukuran ka Alloh SWT nya?”. Sambil tersenyum ibu jamal menjawab serta mengucapkan wejangannya untuk si cikal.
“hhhmmm.. kitu nya.” Sambil tertunduk jamal memikirkan apa kata ibu nya barusan. Ada yang aneh ketika ibunya berkata barusan. Ada yang aneh, tapi jamal membuang jauh-jauh pikiran negatif yang barusan hinggap di pikirannya.
Sepanjang perjalanan jamal hanya melamun memikirkan kata-kata dari ibunya mengenai wejangan ibunya ketika beliau telah tiada nanti.
Akhirnya Jamal beserta keluarga pun sampai di mushola kecil tempat ibadah warga kampungnya. Mereka dan Warga kampung tersebut pun mulai melaksanakan shalawat yang telah diumumkan pak RW tadi shubuh.
Satu jam berlalu, shalawat pun telah selesai. Jamal, keluarganya, beserta warga kampung tersebut membubarkan diri dan kembali kerumahnya masing-masing. Tak ada sepatah katapun keluar dari keluarga jamal ketika pulang dari mesjid tersebut. Seakan mereka merenungkan sesuatu. Begitupun jamal, begitupun warga masyarakat yang lainnya.
Waktu menunjukan pukul setengah enam pagi, ibu jamal sedang memasak. Ayahnya sedang memberi makan sapi milik keluarganya. Adiknya sedang bermain ditengah rumah. Paman dan bibinya sedang mengobrol di rumah. Jamal hendak mencari rumput untuk pakan sapi-sapi milik keluarganya. Sudah menjadi kebiasaan jamal setiap hari pagi-pagi jamal mencari rumput di kebun di sebelah kampungnya.
“mah, jamal ngarit heula nya”.
“Enya sok, eueut heula mal” seru ibunya.
“muhun mah.”
Jamal pun berangkat ke kebun. Tetapiseketika juga hati jamal tidak karuan. “aya naon nya. Ti tatadi teu ngeunahhate ieu teh.” Ucap jamal didalam hatinya.
“gggrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr”terdengar gemuruh aneh ketika jamal berjalan menuju kebun menjauhi perkampungannya. “naonnya eta??” jamal bertanya sendiri. “ah meureun dedengean”.
Dia menyimpulkan sendiri sambil terus melanjutkan perjalanannya dengan memanggul karung dan parang yang dia bawa. Dia tidak mengetahui kalau tanah diatas perkampungannya telah retak.
“gggggggggggrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr,bruuuuuuuk”
Seketika itu jamal menoleh ke belakang. Dan alangkah terkejutnya ketika tanah sebelah bawah perkampungannya bergerak kebawah dengan rumah-rumah warga diatasnya.
“aaah Allohu akbar. Mamaaah mamahhhh !” dia melemparkan karungcdan parangnya kemudian berlari menuju rumahnya yang terlihat dari jauh bergerak kebawah bersama dengan rumah-rumah lainnya.
“aaah tuluuuuung” “mamaaaaah” “bapaaakkkk” “aaaahhh”suara-suara teriakan dimana-mana.
Tapi ketika ada secarik harapan ketika rumahnya bergerak kebawah terbawa tanah yang berada di bawah rumah tersebut menuju kebawah masih utuh itu hilang seketika, ketika tanah yang ditinggalkan sebagian tanah perkampungan yang bergerak kebawah itu jatuh menimpa rumah yang masih tersisa tersebut. Seperti gunung yang terguling.
“grrrrrrrrrr bruuuk, bruuuuk”.
Mengubur seluruh rumah di perkampungan jamal. Jamal pun berlari menyelamatkan diri ketika tanah berjatuhan dari atas. Bercampur batu-batu, pohon dan lainnya.Jamal berlari sekencang mungkin dengan perasaan tak karuan.
“aaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhh” tapi tanah terlalu cepat menyergapnya, jamal puntertimbun tanah.
“aaah, aaah” jamal tersadar. Tapi seluruh badannya tak bisa digerakan karena tertimbun tanah hingga sedadanya.
“maaah, mamaaah, bapak, nita, randiiiiiiiiii!!!”sambil menjerit, menangis dia berteriak. Seketika itu juga dia mempunyai tenaga karena rasa khawatir akan keluarganya. Dengan susah payah dia keluar dari timbunan tanah itu. Berlari menuju perkampungannya dengan luka di sekujur tubuhnya.
“aaaaaah, aaaaaaaaaaaaaah,mamaaaaaaaaaaaaaah, bapaaaaaaaaaak???!!!!” dia berteriak menjadi jadi ketika perkampungannya tak ada yang tersisa sedikitpun. Hanya lapangan yang sangat panjang dengan timbunan tanah merah dimana-mana. Tak ada bekas rumahnya sedikitpun. Seolah-olah tak ada perkampungan yang harmonis ditempat itu sebelumnya. Sekarang semuanya rata.
“maaaaaaaah, maaamaaaaah.” Sambil menangis dia menggali gali tanah yang dia kira bekas lokasi rumahnya dulu. Tapi percuma saja, tanahnya terlalu dalam sehingga dia tidak mampu berbuat apa-apa.
“ibuuuuu..” “mamaaaaah” “Allahuakbar” “aaaaaaah..” tangisan, jeritan dimana-mana saat itu. Jamal langsung membantu orang-orang yang selamat saat itu. Dia menarik sebuah tangan yang semua badan orang tersebut tertimbun. Dia membantu dan membawa orang-orang yangberada disana menjauh dari tempat itu. Karena longsoran tanah terus menerus berjatuhan dari atas. Dengan menangis, dan rasa sakit disekujur tubuhnya dia membantu warga yang lain ke tempat yang aman dari tempat itu.
Dua hari berlalu dari kejadian itu. Jamal menangis terus menerus meratapi tak ada satupun keluarganya yang berhasil selamat. Ibunya, ayahnya, kedua adiknya, dan paman dan bibinya. Dengan kedinginan lantai sekolah dasar tempat mengungsi itu, jamal melamun sambil menangis merindukan keluarganya. Semuanya tak terasa. Semuanya sekejap bagaikan mimpi. Andaikan dia tahu akan seperti ini, mungkin dia akan memeluk dan mencium ibu, ayahnya dan kedua adiknya. Dan dia tak akan berangkat mencari rumput. Dia akan tinggal bersama keluarganya. Untuk tertimbun bersama. Tak ada gunanya dia hidup jika harus sendiri. Tak ada satupun keluarganya. Dia terus menerus meratapi kejadian hari itu.
Empat hari berlalu, ada kabar kembali ditemukannya mayat. Seorang bapak yang sedang memeluk anaknya. Tim pencari menyebutkan kedua mayat tersebut adalah keluarganya jamal. Dengan berkaca-kaca, mata hitam karena terus menerus menangis serta jalan sempoyongan jamal beranjak menuju mesjid tempat disimpannya mayat-mayat yang baru ditemukan.
Sedikit demi sedikit dia membuka kainputih yang menutupi dua mayat yang sedang berpelukan tersebut yang telah mengeras. Dan bagai disambar petir, begitu hancur hatinya ketika kedua mayat tersebut dia lihat adalah ayahnya yang sedang memeluk nita adik perempuannya.
“bapaaaaaaaaak, nitaaaaaaaaaa!!!! Bapaaaaaaak naha jadi kieu pak, paaaak.Nitaaaaaa. Nitaaaa” sambil menggoyang goyangkan mayat ayahnya sambil menangis dan menjerit berharap ada secarik keajaiban dan harapan bahwa mereka masih bisamenjawab panggilan itu. Tapi sayang, semuanya percuma, mereka berdua telahtiada.
Seakan air matanya telah habis, jama terus menerus melamun memikirkan ibunya yang belum ditemukan.
Lima hari telah berlalu. Dan jamal sekarang telah mulai tegar dan membantu mencari korban-korban yang belum ditemukan selanjutnya.
Sore hari sebuah kepala ditemukan dengan badannya dengan senggang waktu penemuan 2 jam. Kemudian di hari yangsama seorang anak laki-laki ditemukan. Itu adalah ibu dan adik laki-lakiny ajamal. jamal kembali ke mesjid tersebut dan membenarkan kedua mayat tersebut adalah keluarganya. Dengan tangisan dia berkata “benar mereka adalah keluargasaya.” Jawabnya memakai bahasa Indonesia kepada para penyidik. Hancur hatinya ketika melihat keadaan tubuh dan kepala mayat sang ibu terpisah. Dengan menangis jamal beranjak pergi dari mesjid itu. Dia mulai tegar meski sekarang hidupnya sebatang kara. Tak ada canda tawa adik adiknya, tak ada senyuman ibunya. Dan tak ada guyonan dari ayahnya. Semuanya hilang begitu saja. Terselimuti tanah merah yang selalu dia ingat sampai kapanpun.
Pencarian pun berakhir, tapi paman dan bibinya tidak dapat ditemukan. Jamal pun meng ikhlaskan mereka. Dia sadar bahwa dia harus meng ikhlaskan mereka agar mereka tenang disana. Agar mereka tenang disana. Sambil melihat tanah merah bekas perkampungannya, dia membawa sekuntung bunga. Dan mengingat kenangan saat dia kecil, bermain, dan hidup bersama keluarganya. Sambil air mata bercucuran dia berkata “mah, pak semoga kalian tenang disana. Semoga kita semua bisa berkumpul kembali di syurga nanti. Jamal janji akan melaksanakan semua amanat dan pesan dari mamah.” Dia mengatakan sambil melemparkan bunganya ke tempat reruntuhan tanah tersebut.
~TAMAT~
*cerita ini diambil dari kisah nyata longsor di nagrog kec. Cililin dengan nama yang saya rubah untuk kepentingan tulisan. Saya teispirasi membuat cerita ini ketika saya mengobrol dengan korbannya secara langsung. Semoga semua ini menjadi pelajaran untuk kita semua .Mohon maaf jika ada kesalahan penulisan kata, tempat dan jumlah korban yang tertera.
Salam hangat INDRALESMANA
No comments:
Post a Comment