Pagi ini cuaca sangat indah. Meskipun aku hanya tinggal di sebuah kontrakan
dengan ukuran yang relative kecil. Tetapi aku bersyukur, karena aku bisa
belajar untuk hidup mandiri. Bagiku home sweet home. Bagaimanapun rumahku, inilah tempat tinggalku yang harus aku syukuri.
Di depan kontrakanku dipenuhi tanaman-tanaman hias. Bunga
ros, mawar, kumis kucing, kuping gajah, dan tanaman-tanaman lain yang sengaja
ku beli. Memang aku seorang pecinta tanaman. Bagiku tanaman dapat membelai
lembut saluran pernapasanku hingga tercipta sebuah kedamaian yang alami, yang
membuat pagiku sangat bersemangat. Aku selalu melakukan rutinitas pagi, yaitu
bernafas dalam-dalam didepan rumahku sebelum aku melakukan aktifitas seperti
biasa.
Hari ini hari sabtu, dan aku libur untuk bekerja. Aku ingin
sekali refreshing hari ini. Aku sudah terlalu lama membebani pikiran ini dengan
tugas kerja dan kuliahku. Dan hari ini tepat 4 tahun aku tinggal di cilegon.
Sebuah kota kecil di ujung barat pulau jawa yang disebut kota baja. Aku kira
mungkin karena kehadiran sebuah pabrik baja disini, hingga kota ini disebut
kota baja. Nama yang sangat tepat untuk sebuah kota yang sangat panas.
Sudah segar dada ini, seakan belaian udara segar membersihkan
setiap rongga di dada ini. Saatnya aku lekas mandi. Akupun beranjak ke kamar
mandi untuk menyegarkan tubuhku ini.
“Bud? budiii? Gue masuk ya?” terdengar suara memanggil
didepan rumahku. Karena rumahku sangat kecil, sehingga setiap suara yang
lumayan keras akan langsung menyapa telingaku. Dimanapun aku berada di rumahku.
Apalagi di kamar mandi rumahku yang bisa dikatakan dekat dengan ruang tamu yang
langsung menuju depan rumahku.
“yaudah, lu masuk ajar ren!” ucapku dikamar mandi. Karena aku
sudah tau rendi yang memanggil. Karena dia sudah sering main kesini, sehingga
dia sudah leluasa masuk ke rumahku. Dan aku sudah sangat mengenal suaranya.
“segerrr!!, lu ngapain pagi-pagi sudah kesini ren?” ucapku
dengan balutan handuk di badanku, menyapa rendi yang sedang asik nonton tv.
“bud lu lupa ya? Ini
udah jam delapan pagi, kita kan jam delapan janji main ke pulau besar buat
makan bareng anak-anak disana.”
“oh iya ren gue lupa, kenapa lu gag ngasih tau gue tadi
pagi??”
“sorry gue juga telat bud” ucap rendi sambil terus menonton
tv.
“yaudah, gue siap-siap dulu. Kalau lu mau makan, makan aja.
Ada makanan noh diatas meja makan.”
“okeh, kebetulan gue laper belum sarapan.” Ucap dia sambil
beranjak ke dapur dengan menyimpan remote tv yang dia pegang terlebih dahulu.
Aku lupa, hari ini aku ada janji sama adi, rendi, jarwo dan
satria buat ngeliwet. istilah makan bareng untuk orang sunda. Kita akan
mengadakan ngeliwet di pulau besar. Sebuah pulau yang tepat berada di seberang
pelabuhan merak. Pelabuhan merak adalah pelabuhan yang berada di ujung barat
pulau jawa di selat sunda. Selat yang menghubungkan pulau jawa dan pulau Sumatera.
Pulau itu sangat indah, masih jarang terjamah oleh manusia. Paling oleh orang
yang hanya sekedar mancing atau jalan-jalan dipantai saja. Tidak ada yang
berani masuk ke area hutan di pulau itu. Karena dipulau itu terdapat sebuah
hutan yang sangat lebat yang dikelilingi rawa yang menyimpan misteri. Aku
pernah dengar keangkeran hutan di pulau besar dari nelayan sekitar. Konon
setiap yang masuk hutan itu, tidak akan pernah menemukan jalan untuk pulang. Dari
kisah para nelayan itu, meskipun kita sudah empat kali ke pulau itu. Kita tidak
pernah berani untuk masuk ke area hutan di pulau besar itu. Bukan kita percaya
takhayul, tetapi kita lebih baik menjaga diri kita di kota orang ini.
Baju hitam bergambar patung liberti, di tambah celana jeans
biru telah menghiasi tubuhku. Ku pakai jaket hijau agar nanti tidak ada udara
yang bisa masuk ke pori-pori ku. Agar aku tidak meriang nantinya pikirku.
“ayo ren kita berangkat, kayaknya anak-anak sudah menunggu
kita”. Seruku.
“oke kita cau”. Jawab rendi sambil memasukan sepotong apel
kemulutnya.
Kitapun berangkat menaiki motor rendi kesana. Rendi adalah
teman baikku semenjak kesini. Dia sering sekali main kerumahku, begitupun aku
ke rumahnya. Kita memang sudah seperti saudara disini.
Bau anyir air laut sudah tercium dari kejauhan. Akupun sudah
melihat permadani biru di depan mataku. Terlihat juga kapal-kapal bagai
perhiasan diatas permadani biru tersebut.
Hmm, udara ini yang selalu aku tunggu. Membuat pintu relaksasi terbuka
langsung dikepalaku. Mengaktifkan setiap gelombang cahaya ketenangan di
tubuhku. Memberikan hasrat positif pada diriku. Aku sangat senang sekali hari
ini, meski disisi lain aku merasakan hal yang aneh hari ini. Dan akupun tidak
tahu apa itu.
Kita pun sampai, setelah rendi memarkirikan motornya. Kita
mendekati teman-teman yang sudah menunggu dipinggir pantai dengan hiasan batu
karang didalamnya.
“kalian kemana aja sih??” Tanya adi sambil manyun. Sepertinya
dia marah karena aku dan rendi telat menemui mereka.
Ku lihat satria dan si gendut jarwo terlihat sedang asik
menangkap kepiting di sela-sela batu karang disana. Jarwo tertawa
terbahak-bahak ketika satria terjatuh. Hingga wajahnya masuk ke pasir.
Jarwo adalah temanku yang paling gendut. Dia sangat subur, ku
tafsir berat badannya mencapai seratus kilo lebih. Sedangkan satria adalah
temanku yang paling kurus dan tinggi, dia memiliki tinggi sekitar 185cm lebih.
Sedangkan rendi adalah teman paling dekatku. Dia memakai kacamata, dan dia
paling shalih diantara kita semua. Yang terakhir adalah adi, adi adalah temanku
yang paling sulit. Dia salah satu temanku yang paling gampang tersingung dan
dia paling lemah gemulai. Tapi mereka semua adalah teman baikku. Dan aku senang
karena mereka selalu mengisi hidupku.
“wo , sat ayo berangkat. Udah siang nih!” ucap adi.
“oke, ayo sat, berangkat. si cantik udah manggil. Hehe” ucap
jarwo.
“oke brother. Cenng ah” jawab satria.
Kulihat mereka senyum-senyum sendiri di kejauhan.
“ayo ren”
“siip” jawab rendi.
Kitapun berjalan mendekati dermaga perahu kecil di pinggir
pantai itu. Dermaga itu terbuat dari tumpukan bambu dan kayu bulat berdiameter
kurang lebih 15 cm yang dibuat seperti dermaga dan tiang. Tiang itu berfungsi
untuk mengikat perahu ketika berlabuh.
“mang mang!!!” aku memanggil salah satu nelayan disana.
“iya de? Kemana?” jawab si emang nelayan itu.
“biasa pulau besar mang. Oke?”
“naiiik” ucap si emang nelayan itu.
“ayo naik bro!” ucapku. “kita lanjut untuk berlayar dan
berpetualang”!
“oke!” seru mereka berempat.
Diperjalanan kulihat adi sedang mengobrol dengan rendi. Si
gendut masih mengobrol dengan si jangkung satria. Aku sendiri terdiam dalam
lamunanku. Indah sekali hari ini, tapi entah kenapa ada sesuatu yang
mengganjal. Aku tidak tahu apa itu.
“de??” si emang memanggilku dengan berbisik.
“apa mang?” jawabku singkat. Ku lihat ada yang aneh dengan
tatapan si emang.
“kenapa ade pakai jaket hijau. Hati-hati ya de, nyi roro
kidul paling suka sama orang yang berpakaian hijau. Jangan pernah mendekati
hutan di dalam pulau besar juga, apalagi ade pakai pakaian hijau.” Ucapnya
dengan muka serius.
“emm, eh iya mang. Hehe” aku tertawa kecil. Aku tidak pernah
takut dan percaya dengan hal seperti itu. Jadi aku tidak terlalu menggubrisnya.
“sampaaai. Loncat sat??” seru jarwo sambil meloncat ke pasir
putih di pulau besar.
“oke. Awas si ganteng mau loncat!” ucap satria.
“awas hey kalian, takut ada bulu babi”. Ucapku karena
khawatir.
“iya hey kalian tu. Awas!” timpal adi.
“biarin lah. Mereka emang kaya gitu”. Rendi membela mereka.
Sesampainya disana si gendut dan si jangkung sudah
berlari-lari. Mengambil kumbang, menulis nama mereka masing-masing di pasir,
dan membuat bangunan kecil di pasir. Rendi dan adi langsung melempar tas dan
membuka baju. Mereka langsung meloncat ke air laut dan berenang. Aku lebih
memilih untuk tiduran di atas karang dibawah pohon yang rindang. Akupun melihat
mereka sedang bersenang-senang. Kuperhatikan arah sebelah timur dari pulau,
terlihat kapal-kapal besar sedang berlayar membawa penumpang. Begitu indah ketika
kapal-kapal sebesar itu bisa mengambang di atas air. Baja yang begitu berat dengan semua penumpang
yang sangat banyak bisa menaklukan air yang biasa memeluk barang yang ada
disekitarnya dengan menenggelamkannya. Memang semuanya ada kuncinya, ada sesuatu
dibalik sesuatu.
Aku memang mencari ketenangan disini. Aku lebih senang diam
sambil santai ketimbang bermain, ataupun berlari-lari disini. Mulai terasa
tubuhku berat dan akupun mengantuk setelah suara angin laut yang menabrak
pohon-pohon di pulau seperti memutarkan sebuah alunan music yang menenangkanku.
Aku sudah menguap beberapa kali. Dan kurasakan mataku mulai berat. Dan akupun
mulai memejamkan mataku.
“Budiiiii~~, bud~~. Hai budiii~~??” kulihat senyuman seorang
wanita yang sangat cantik didepan mataku. Kepalaku seperti bersender dipaha
nya, aku tak tau siapa wanita ini. Senyumnya membuat hatiku seakan beku dan tak
bisa merasakan yang lain kecuali dirinya. Dia mengusap kepalaku. Aku tidak tahu
apakah ini mimpi atau nyata. Yang pasti aku sangat merasakannya. Dan Akupun serasa
tertidur kembali.
“huaaah” aku terbangun. “lho, ini dimana?” aku berada
ditempat yang aku tidak ketahui. Diatas sebuah batu. Gelap gulita dimana-mana. “ren?? Adi dimana
kamu?? Jarwo?? Sat?? jangan bercanda. Kalian dimana??”. Seperti didalam sebuah
hutan. Aku mengingat-ingat kembali. Yang aku ingat aku tertidur dipinggir
pantai. Tapi kenapa aku terbangun disini. Mungkinkah anak-anak mengerjaiku.
Terus siapa wanita tadi? Apakah dia hanya mimpi? Ataukah nyata? Atau mungkin
dia yang membawaku sampai kesini. Kenapa aku disini? Aku bingung. Segera ku
ambil handphone ku di saku ku.
“sial, gag ada sinyal” gumamku. Dan jam menunjukan jam 18.30
.Aku harus kemana? Aku harus berteduh dimana? Aku harus meminta tolong sama
siapa?. Ya Tuhan bantu hambamu ini. Aku pun bertayamum disana dan melaksanakan
shalat . setelah itu aku mulai tenang. Batu yang tadi kududuki kembali. Dan aku
kembali memanggil teman-temanku. Yang mungkin ini semua adalah kerjaan mereka.
Dan aku harap begitu.
Jam hp yang ku lihat sudah menunjukan jam 21.00. memang ini
bukan keisengan teman-temanku. Mungkin mereka mencariku sekarang. Aku sudah
menunggu barangkali mereka menemukanku disini tapi tidak ada tanda tanda mereka
mencariku. Karena aku tidak mendengar suara panggilan dari mereka.
“kriik-kriik, gog gog auuuu. Kriik. Oewow. Hihihihi” suara
serba aneh mulai terdengar. Aku sangat ketakutan kali ini. Tapi aku tetap
berusaha untuk berani. Cahaya bulan menerangi malam ini, aku tidak membutuhkan
api disini. Karena aku juga tidak membawa korek. Hanya dompet, dan makanan di
tasku yang tadi sempat ku masukan ketika dirumah.udara malam ini
mengiris-ngiris kulitku. Dinginnya sudah tak bisa ku tahan.
“budii~~, bud~~.. budiii~~”
suara itu datang lagi. Aku ingat itu wanita tadi yang menemuiku.
“hai, siapa kamu??. Sebentar, saya mau nanya?”
“budii~~, bud~~..
budiii~~” dia tidak menjawab pertanyaanku. Tetapi malah mengulang
panggilannya.
“hei? Siapa kamu? Kesini!” panggilku. Aku melihat kanan, kiri
atas bawah tapi tidak menemukannya.
Tapi dia langsung melihatku dari arah belakang, dia berada
tepat disebelah telinga kananku. Sambil berkata “apaaaa?? Kamu minta aku
menemuimu kan?? Hihihihi… aku sudah disini?? Hihihi. Ada apa?? Hihihi”
“ka.. ka… mu.. kamu siapa? Kenapa aku disini??” tanyaku
terbata-bata karena aku takut dengan dia. Meskipun dia sangat cantik, tapi aku
rasa dia bukan manusia. Mengingat dia bisa hilang begitu saja. Dan aku melihat
di terbang kesana kemari diantara pepohonan yang gelap waktu itu.
“aku yang membawamu kesisi, hihi. Aku yang mengajakmu kesini.
Hihi. Kita sekarang di tengah hutan pulau ini.hhihi. aku menyukaimu. Hihihi.
Karena kamu memakai pakaian hijau.hihihi. aku akan menikahimu.hihihi. dan KAMU
TIDAK AKAN BISA PULANG!!! HIII HIII HIII HIII.. aku akan membawamu ke
istanaku.” Dia menjawabku dengan nada suara yang naik turun, kadang seperti
wanita lembut dan kadang seperti nenek sihir. Aku ketakutan sekali. Akankah aku tidak bisa pulang lagi seperti apa kata warga sekitar? Akankah aku tidak bisa bertemu
teman-teman dan keluargaku lagi?. Aku tidak tahu.
“tapi aku manusia. Dan kamu hantu. Kita tidak mungkin
menikah. Apa yang akan terjadi padaku nanti?. Lepaskan aku”.
“aku tau. Dan aku akan tetap membawamu ke istanaku. Kita akan
menikah.. hihihi”
Mungkin ini yang membuatku gag enak hati ketika berangkat
tadi. Bukan saatnya untukku menyesal. Aku harus keluar dari sini.
“tiba saatnya pukul 00.00 nanti. Kamu akan menjadi
suamiku.hihihi”
“aku tidak akan pernah menjadi suami mu!!”
“hihihihi” dia tetap tertawa. Ucapanku hanya membuatnya tertawa.
Jam menunjukan 23.50. sepuluh menit lagi 00.00. aku harus
bagaimana? Ya Tuhan tolong aku. Aku ingin keluar. Seketika itu juga aku
teringat kata-kata ibuku untuk membaca sebuah do’a yang akan membuat kita
terhindar dari gangguan hantu atau jin.
Jam 23.55 aku segera membaca do’a itu.
“Audzubikalimmattillahi……….”. seketika itu juga tubuhku seperti tertarik jauh
kebelakang. Seperti terbang kebelakang, melayang. Seperti ada yang menarikku
jauuh kebelakang.
“aaaah, heuu haaah. Haaah “ tiba-tiba aku seperti terbangun
dari tidur yang berat ku. Dengan semua keringat membuat badanku basah.
“syukurlaahhh!!. Akhirnya lu sadar juga bud.” Seru rendi.
“di,, dimana gue ren?” saat ini kepalaku sakit sekali. Pusing
sekali.
“lu tenang aja bud. Lu sudah dirumah lu. Lu gag sadar udah
dua hari. Semenjak lu tertidur dipantai dan gag bangun.” Adi menjawab
pertanyaanku.
“iya bud, lu nyantai aja. Istirahat dulu” timpal satria.
“ntar kita makan –makan oke?” ucap jarwo.
“iya mas budi. Mas sekarang bisa tenang”. seorang bapak-bapak yang kukira itu ustad
berbicara padaku.
“iya pak ustad. Saya kenapa ya pak ustad?” aku bertanya pada
ustad tersebut kenapa aku bisa seperti itu. Dia menjawab bahwa aku telah
diganggu oleh si penunggu hutan itu. Si penunggu itu tertarik karena aku
memakai pakaian hijau. Dan kebetulan ketika itu aku sedang melamun sehingga si
penunggu itu membawa jiwaku bersamanya. Tepatnya seperti astral projection
bagiku. Suatu kondisi dimana pikiran kita berpisah dengan badan kita. Dan
beliau bilang untung aku ingat do’a yang dapat melepaskan dari gangguan seperti
itu. Sehingga aku bisa kembali. Jika aku tidak tahu, beliau juga tidak tahu apa
yang akan terjadi padaku.
Aku bersyukur pada Tuhan karena aku selamat. Dan aku akan
lebih berhati-hati jika jalan-jalan. Hal yang paling utama yang tidak boleh
dilewatkan adalah berdo’a. dan kita tidak boleh melamun dimana saja. Aku
bersyukur aku selamat. Dan aku sudah mengetahui misteri pulau besar itu. Karena
akupun mengalaminya.
~TAMAT~
*mohon maaf jika ada
persamaan nama atu tempat. Cerita ini hanya karangan dan kisah fiktif belaka.
*udah dibaca, mohon di komen ya. Di kritik
juga.
indra lesmana
